Mengapa Kamu Sulit Mengatakan "Tidak"


Dua hari lalu Euis bertemu dengan teman-temannya lewat laptop miliknya, nongkrong virtual katanya. Ia bercengkrama bersama teman yang sudah lama tak ia jumpai. Di awal percakapan ia begitu bersemangat dan bahagia akhirnya bisa bertemu kembali dengan teman-temannya, walau pertemuan itu harus diperantarai oleh laptop dan internet. Begitu mengalir percakapan mereka. Tak lama kemudian jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dan beberapa temannya sudah mulai keluar dari obrolan, punya urusan masing-masing katanya. Euis akhirnya tinggal bertiga dengan temannya. Ia sudah mulai lelah dan mengantuk. Ingin sekali rasanya ia menutup dan keluar dari obrolan, namun kenyataannya ia tetap melanjutkannya. Ia tak berani menutup obrolan tersebut.


Gun merupakan anak dari keluarga yang cukup berada. Ketika seminggu setelah hari raya berlalu, ia berpergian ke pusat perbelanjaan bersama dengan adiknya. Tak lama ia sampai di sana, seorang wanita dengan menggunakan seragam menghampiri dan menawarkan sebuah produk dari perusahaan tempat ia bekerja. Adiknya hanya bersembunyi di belakangnya. Gun pun mulai linglung dan bingung harus jawab apa. Akhirnya ia menyutujui wanita tadi dan membeli produk tersebut. Dua minggu setelahnya ia kembali ke pusat perbelanjaan tadi dan menyusuri lorong yang sama seperti waktu itu. Ia melihat ada sebuah stan dan kumpulan pekerja dengan menggunakan seragam, kali ini perusahaan yang berbeda. Gun tak berani menghampiri dan berusaha menghindari stan tersebut. Sebulan, dua bulan, dan begitu terus setelahnya. Ia menghindari lorong tersebut karena tak berani menolak penawaran pekerja berseragam tadi.


Di lingkungan kampus, Tin dikenal sebagai manusia yang super sibuk. Sibuk dengan organisasi ini dan itu. Ia selalu mendaftar tiap ada kesempatan menjadi panitia ini dan itu. Kesempatan itu terus berdatangan ke arahnya karena ia selalu menyanggupi semua tawaran itu. Ketika menjelang tahun ajaran baru tiba, Tin mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia lelah dan tak ingin mendaftar kepanitiaan maupun organisasi dalam dua bulan ini. Sesuai ekspektasi, ia ditawari menjadi panitia ospek karena katanya kekurangan SDM. Dan lagi-lagi sesuai eksepektasi, ia menerima tawaran tersebut. Bukan Tin tak mau menolak, hanya saja ia merasa gaenak.

 

Terdengar familiar?

Atau lebih-lebih lagi, kamu pernah mengalaminya?

Apa yang dialami Euis, Gun, dan Tin adalah apa yang biasa kita alami. Kejadian ini sudah terlalu sering terulang dalam hidup kita, saya dan kamu. Ditawari ini, diterima. Ditawari itu, disanggupi. Fenomena ini sudah menjadi keseharian kita.

Berbagai tawaran selalu datang menghampiri. Yang saya alami, biasanya tawaran proyek, kepanitiaan kampus, nongkrong, bahkan tawaran produk wi-fi, mirip seperti yang dialami oleh Gun tadi.

Lantas, mengapa kita sulit untuk mengatakan “tidak”?

 


Tidak Mau Menyakiti atau Mengecewakan Perasaan Orang Lain

 

Apa yang akan kamu lakukan ketika sahabatmu mengajak nongkrong padahal besok kamu ada presentasi? Apakah kamu tetap nongkrong atau kamu tolak? Kira-kira apa yang terjadi jika kamu menolak ajakan sahabatmu? Mungkin saja mereka memaklumi. Tapi bagaimana jika kamu seorang mahasiswa yang super sibuk dan kamu ditawari untuk mendaftar kepanitiaan oleh sahabat dekatmu? Padahal kamu harus mengurusi urusan ini dan itu yang belum kamu selesaikan.

Jika kamu tetap mengikuti ajakan tadi dan tidak berani mengatakan “tidak”, mungkin kamu akan merasa berhasil dan senang di awal karena mendapatkan kesempatan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kamu akan menggerutu dan perlahan-lahan menyesali keputusan yang sudah kamu ambil. Ini karena kamu menyetujui alasan tadi karena merasa gaenak dengan sahabatmu. Jika ini terus berlanjut, bisa-bisa kamu mengorbankan dirimu untuk kebahagiaan orang lain. Bagi saya, ini sama saja kamu tidak menghargai dirimu. Padahal kamu pantas.

 


Ingin Meraih Seluruh Kesempatan

 

Sebagai manusia biasa, kadang saya suka merasa serakah terhadap kesempatan yang terus berdatangan. Tawaran ini dan itu selalu saja saya terima. Ini memang bagus untuk bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepada saya. Namun sebenarnya, saya tidak memiliki kewajiban apapun untuk meng-“iya”-kan seluruh kesempatan. Yang menjadi kewajiban saya adalah mengoptimalkan kesempatan yang sudah saya ambil.

Ini berlaku juga bagimu. Tak perlu untuk mengambil seluruh kesempatan yang ada. Ada kalanya kita hanya perlu mengambil satu dua kesempatan dan fokus mengoptimalkannya. Selalu totalitas untuk mengharagai kesempatan yang sudah diberikan. Dan yang terpenting, hargai dirimu.

 

 

Takut Membuat Hubungan dengan Orang Lain Menjadi Jelek

 

Saya memiliki hubungan dengan banyak orang, begitu juga kamu. Ada teman kerja, teman kuliah, saudara, tetangga, bahkan orang tua. Hubungan-hubungan ini saya harap selalu berumur panjang. Tapi bagaimana jika mereka meminta pertolongan kepadamu namun kamu sedang ingin istirahat? Atau bagaimana jika mereka ingin meminjam uang kepadamu hanya untuk keperluan konsumtif, padahal kamu sedang ingin membeli sesuatu dengan uang tersebut?

Akankah kamu menyetujuinya? Jika iya, mungkin karena kamu tidak mau hubunganmu dengan mereka menjadi renggang atau bahkan jadi jelek. Tapi jika kamu tetap menyetujuinya, apa yang akan terjadi padamu? Akankah kamu merasa lebih baik karena kamu telah menolong mereka? Atau kamu hanya akan terus menggerutu dan justru kesal dengan mereka?

 

Takut Dianggap Sebagai Orang yang “Jahat”

 

“Ah si dia mah orangnya gamau nolongin”.

“Gausah minta tolong ke dia! Orangnya gituu”.

 Mungkin itu yang akan muncul di benakmu tentang apa yang akan orang lain pikirkan tentangmu, jika kamu menolak permintaan atau tawaran mereka. Kamu takut dianggap sebagai orang yang “jahat” karena tidak mau menolong orang lain. Tapi dalam kenyataannya, apa benar begitu?



Apa sebanarnya yang kamu takutkan? Takut dianggap orang yang “jahat” atau takut merusak hubungan dengan orang lain? Takut untuk menyakiti orang lain atau takut kehilangan kesempatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini hanya kamu yang bisa menjawabnya. Jawaban yang benar hanya bisa didapatkan jika kamu berani untuk jujur kepada dirimu sendiri. Jika nanti kamu sudah menemukan alasan mengapa kamu sulit untuk mengatakan “tidak”, yang menjadi pertanyaanmu selanjutnya adalah “Kapan dan bagaimana seharusnya saya mengatakan tidak?”.


Comments

Popular Posts