Mencari Ketenangan Hati


Unsplash.com


Kali ini saya sedang tak ingin mengikuti struktur penulisan.

Saya sedang ingin bercerita.

Jadi jangan berekspektasi tinggi terhadap tulisan kali ini.


Jika berkaca pada tahun-tahun SMA, saya sempat berada dalam masa dimana kobaran semangat sedang berada pada puncaknya. Belajar, menjalin pertemanan, dan berorganisasi ala-ala merupakan aktivitas favorit saya. Siklus aktivitas tersebut membuat saya seperti berada dalam lingkar kenyamanan namun tetap memaksa saya untuk bertumbuh. Ini adalah sebuah anugerah dan berkah yang patut disyukuri.

 Seperti yang orang-orang tahu, OSIS memiliki beragam program kerja. Tak ada bedanya dengan sekolah saya. Proker itu seperti hasrat memiliki dunia, tak ada habisnya. Bisa dibilang setiap kali menjalani sebuah program kerja, saya selalu saja merasa khawatir. Ada saja perasaan itu, khususnya ketika mendekati acara-acara besar. Pernah sekali, saya merasa benar-benar khawatir dan bingung karena uang untuk event belum terkumpul, masih kurang banyak.

 Mungkin waktu itu saya memandang diri saya sedang mengerahkan seluruh kemampuan dan totalitas dalam mencari kekurangan tersebut. Namun jika dilihat dari kacamata saya yang sekarang, ini seperti sebuah permainan yang seharusnya tak perlu saya khawatirkan secara berlebihan. Bahkan mungkin tak perlu merasa khawatir. “Toh kan gue masih sma”.

 Sedikit keluar dari inti tulisan, saya ingin berbagi. Mengingatkan kepada kamu bahwa siapapun bisa saja merasa khawatir. Tidak peduli dengan umur, pendidikan, maupun kecukupan ekonomi. Bahwa jika kamu seorang pekerja dan memandang masalah-masalah anak sekolahan seperti, “Yaelah masalah gitu aja khawatirnya berlebihan banget”, atau “Yaudahsi ntar juga pada baikan lagi, gausah lebay deh!”. Masalah-masalah itu bagi mereka seperti masalah kerjaan kamu yang dimarahi pak bos karena perlu direvisi ulang. Tak bisa menggunakan standarmu untuk memandang masalah orang lain.

 Balik ke “Toh kan gue masih sma”. Sekarang saya memandang saya yang dulu seperti orang yang berlebihan menuju lebay. Saya memprediksi jika nanti saya besar saya juga akan memandang saya yang sekarang dengan pandangan yang sama. Begitu juga seterusnya. Saya rasa ini memang sebuah siklus cara memandang masa lalu dalam hidup. tapi bukan ini sebenarnya yang ingin saya ceritakan.

Kekhawatiran


Unsplash.com

 
Ini cerita tentang kekhawatiran. Dari dulu saya sering khawatir bahkan hanya karena hal kecil. Sejak saya tahu tentang kasus-kasus bunuh diri akibat depresi, saya mencoba lebih peka terhadap kekhawatiran diri. Saya hanya belum bisa berempati sepenuhnya dengan mereka yang memutuskan untuk menutup riwayatnya akibat permasalahan yang mereka miliki, mungkin karena saya juga yang belum pernah merasakan kekhawatiran berlebih hingga membuat saya depresi.

 Saya yakin mereka yang memutuskan to commit suicide tidak hanya memiliki satu alasan atau satu permasalahan saja. Saya melihat mereka sebagai orang yang menyediakan tempat untuk masalah dapat berkumpul dan bermalam dalam dirinya. Jika untukmu kalimat tadi tak dapat dibayangkan, maksudnya begini, “Hidup mereka complicated, bukan sekadar masalah satu atau dua, tapi rumit. Mungkin begitu banyak titik-titik masalah yang bahkan tidak bisa mereka koneksikan satu sama lain”. Karena itu mereka memutuskan untuk bunuh diri. Pasti banyak pertimbangannya. Walau saya mulai bisa berempati dengan mereka yang memutuskan untuk bunuh diri, saya tetap tidak setuju dengan penyelesaian bunuh diri.

 Mungkin jika kamu telah membaca cerita saya sampai sini, kamu akan merasa aneh dan tabu ketika mendengar bunuh diri atau sinonimnya. Mungkin memang karena kultur di Indonesia seperti itu. Namun saya yakin banyak yang sudah sadar tentang isu mental health atau isu psikologi lainnya. Itu juga yang menjadi alasan saya bercerita mengenai hal ini.

 Kekhawatiran memang akan selalu dirasakan oleh siapapun, saya, kamu, dan mereka. Sekuat apapun ketenangan yang dirasakan, selagi masih memiliki akal pikiran dan perasaan, kekhawatiran akan selalu singgah.

 Rasa khawatir ada dan akan selalu ada. Keberadaannya mungkin sulit untuk diusik. Itu tidak mengapa. Yang jadi persoalan adalah jika kekhawatiran itu mempengaruhi setiap keputusan dari tindakan yang yang diambil. Dan pada akhirnya memunculkan bias dalam cara berpikir dalam mengambil sebuah keputusan.

 Cara berpikir dalam mengambil keputusan yang dipengaruhi rasa kekhawatiran tidak sepenuhnya salah, karena pada dasarnya kekhawatiran justru melindungi kamu dari pilihan-pilihan yang dapat merugikan kamu. Namun jika kekhawatiran ini sudah memuncak dan telah mengambil peran sepenuhnya otak dalam mengambil keputusan, saya rasa ini akan sangat merugikan.

 Saya tidak ingin membahas kekhawatiran secara ilmiah, saya rasa itu bukan ranah saya. Saya ingin berbagi dari sisi spiritual dan religiositas. 

 

Cerita Baru Dimulai

 Semenjak masuk SMA saya tidak tahu apakah mempertanyakan hidup adalah hal yang terlalu cepat bagi saya atau memang begitu seharusnya. Pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan hidup dan apa yang saya harus lakukan setelah mati sudah muncul di benak saya sedari SMA. Dari sini cerita saya dimulai.

 Dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul tersebut, ditambah lingkungan SMA yang cukup mendukung, saya mulai mendekati dan kembali belajar agama. Dalam hal ini islam. Saat itu Instagram sudah mulai tumbuh dan banyak akun-akun yang dibentuk sebagai media penyebar ajaran agama. Tak lama sejak mengikuti akun-akun tersebut, saya memberanikan diri pergi ke sebuah kajian agama. Kajian pertama yang akhirnya mengantarkan saya untuk kembali mengenal ajaran agama saya, Islam.

 Singkat cerita, saya yang hari ini sudah mulai mengenal kembali Islam. Memang masih sangat sangat butuh banget banget belajar. Mungkin hanya satu persen bagian Islam yang saya kenal. Tapi itu menuntun saya ke jalan yang saya yakini itu adalah jalan yang benar.

 Dan dari sanalah saya mulai mengenal tauhid. Yakni sebuah akar solusi dari segala puncak permasalahan yang ada. Termasuk rasa khawatir.

 

"Tak perlu mendaki gunung dan bersendiri di kala senja. Tak perlu menatap jendela di kala hujan. Tak perlu bangun rumah di daerah pedesaan dan terpencil hanya untuk mencari ketenangan. Tak perlu jauh lagi kau mencari, karena ketenangan ada dalam hati. Cari dalam hatimu, dan hadirkan ketenangan itu dengan kembali kepada Allah ."

 Sebuah pesan singkat. Ini bukan berarti saya tidak percaya psikologi atau sains, hanya saja saya tidak memiliki kapabilitas untuk menyampaikan hal itu. Saya hanya berbagi tentang salah satu hal yang saya alami, dan itu dapat menimalisir rasa khawatir.

 

Kembali ke topik

 


Unsplash.com


Salah satu yang terdapat dalam tauhid adalah bahwa segala-galanya digantungkan hanya kepada Tuhan, Allah . Dengan menggantungkan segala-galanya kepada-Nya serta meyakini bahwa Ia merupakan zat yang Maha Tahu, akan membantu kita meminimalisir kekhawatiran.

 Dengan meyakini, mengingat, beribadah, dan kembali kepada-Nya, ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki akan hadir dan menetap dalam diri manusia. Termasuk saya dan kamu.

 Saya yang sekarang memang belum dan tidak akan pernah sempurna dalam menerapkan tauhid. Namun itu semua perlu dan harus diusahakan untuk terus menyempurnakannya.

 Jadi, saya pikir kamu patut dan harus mencoba mempelajari tauhid. Saya juga yakin kamu tak akan menyesali pernah memperlajari dan menerapkannya. Karena sekali lagi, tauhid merupakan sumber ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.


Comments

Popular Posts