Menjadi Independen




Jika boleh memilih, saat ini saya ingin rasanya balik ke enam belas tahun lalu saat masih berumur sekitar dua tahun. Saya yang hari ini merasa terlalu cepat dewasa. Bahkan serasa tak sempat menikmati suasana gejolak kawula muda. Intensi kembali saya ke masa lalu bukan berarti saya menyesal telah memilih jalan dan prinsip yang telah saya genggam erat hari ini. Hanya saja saya ingin menikmati kembali ke masa dimana saya tidak memiliki beban hidup, saya yang tidak memilki pretensi apapun.

Namun waktu memang tak bisa dilawan, apalagi lingkungan kita juga semakin berumur semakin kuat dan sulit untuk dilawan. Ketika lingkungan dan hidup bersatu kemudian memaksa saya untuk segera dewasa, di situlah rintangan saya dimulai.

Hidup memang tidak terang-terangan dalam memaksa saya untuk menjadi dewasa, namun orang-orang yang saya perhatikan sampai saat ini tak perlu lagi rasanya membicarakan kedewasaan mereka. Terlalu hebat jika dilihat dari kacamata saya. Mereka yang dewasa biasanya memilki sifat sakti yaitu sifat independen. Sifat yang biasanya dimiliki oleh mereka yang mampu bertahan hidup.

Sejak SMA saya sudah terpapar kehidupan di luar Indonesia, kehidupan yang biasanya mahasiswa rantau alami. Ketertarikan kepada kehidupan mahasiswa Jerman membuat saya semakin rajin dalam melihat dunia luar. Hal itu menyebabkan beban laten yang diletakkan di pundak saya. “Mengapa begitu?”, Sebab banyak dari mereka yang usianya terbilang cukup muda untuk mengemban kesendirian di negeri orang. Namun kesendirian itulah yang membuat mereka mengeluarkan potensi terbesar mereka, yaitu menjadi independen. Dari perjalanan saya, kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa sifat independen merupakan keterampilan bertahan hidup, sesuatu yang fundamental.

Keterampilan hidup ini yang cukup membuat saya tertarik bahkan sampai terobsesi untuk memilkinya. Sampai saat ini saya ingin sekali bisa menjadi manusia independen, namun rasanya saya belum mampu. Masih terlalu banyak kebiasaan-kebiasaan yang menghalangi saya menjadi independen.

Independen sendiri merupakan istilah yang lazim digunakan dalam banyak hal. Seperti dalam dunia politik, kultur populer, bahkan sampai industri musik dan dunia media kreatif lainnya. Hari ini, istilah independen dalam masyarakat seperti di-framing sebagai sebuah hal yang berkaitan erat dengan estetika. Namun dalam tulisan kali ini saya ingin mengulik sisi lain dari makna independen.

Pada istilah populernya, independen berarti tidak memiliki ketergantungan terhadap apapun. Namun banyak orang sudah mengetahui bahwa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain adalah hal yang mustahil. Sebab memang dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang perlu saling bantu antara satu dengan yang lainnya. Atas dasar itulah, makna independen coba disesuaikan dengan realita yang ada.

Independen yang telah di-adjusted berarti mengecilkan sekecil-kecilnya ruang ketergantungan terhadap orang lain. Bahkan ketika mendapat dukungan orang lain, seorang yang independen merasa telah “berhutang” dan ingin segera membalas kebaikan orang tersebut. Orang-orang yang independen inilah pada akhirnya mampu bertahan.

Independen sangat menguntungkan untuk mereka yang memilki sifat tersebut. Dengan menjadi independen, mereka dapat menentukan jalan hidup mereka sendiri. Setiap keputusan yang diambil merupakan pertimbangan dari berbagai hal yang mampu mempengaruhi hidupnya. Benefit lain yang didapat ialah mereka mampu membahagiakan dirinya sendiri, sebab mereka tidak menggantungkan kebahagiaanya kepada orang lain. Tidak seperti kebanyakan orang yang menyamakan standar kebahagiaan dirinya dengan orang lain.


“Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma -- which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of others' opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition.”
 
-Elite Daily 
 
Dalam dunia yang lebih luas, independen juga mencakup dari segi finansial. Mereka biasanya telah hidup mandiri dan tahu cara menghidupi dirinya sendiri. Bukan hanya sekadar uang, tapi bisa juga modal berkebun atau bertani. Orang yang saya kenal banyak juga yang telah menghasilkan uangnya sendiri bahkan sejak masih duduk di bangku SMA. Mereka yang memulai berjualan pulsa, pakaian, bahkan sampai perlengkapan sekolah kadang membuat saya iri. Namun lagi-lagi saya belum bisa melakukannya. Pada intinya mereka yang independen mampu berbuat untuk dirinya sendiri, entah dari segi finansial, emosional, social support, maupun bentuk-bentuk lainnya.

Tapi sayangnya, independen juga memilki efek samping. Biasanya ini terjadi kepada mereka yang baru memulai kehidupan independennya. Independensi hidup kadang membuat sebagian orang merasa khawatir bahkan sampai depresi karena kurang percaya diri. Ujian dan rintangan hidup membuat sebagian orang berpikir tidak mampu melakukannya. Ini yang sekarang membuat saya tidak lagi memaknai independensi sebagai kemampuan menggantungkan segalanya kepada diri sendiri.

Dari kacamata saya, independen yang berarti memaksimalkan ketergantungan hanya pada diri kita sendiri, tidak pernah eksis. Ketergantungan seperti ini tidak selayaknya digantungkan pada diri kita sebagai seorang manusia. Karena dalam pandangan saya manusia adalah makhluk yang lemah. Bukan bermaksud mendiskreditkan setiap orang lemah, hanya saja kekuatan manusia hanya setara dengan istilah makhluk, tidak lebih.

Bagi saya, menjadi independen berarti menggantungkan segala-galanya hanya kepada Tuhan, Allah . Prinsip ini memang tidak mudah dijalankan, bahkan mungkin lebih sulit daripada menggantungkan segalanya kepada diri sendiri. Kadang saya suka lupa. Lagi-lagi saya terlalu percaya diri. Padahal yang membuat saya mampu melakukan hal ini dan itu adalah Allah semata.

Dengan mengikuti prinsip tadi, efek buruk dari pemaknaan independen sebelumnya dapat dikecilkan bahkan dihilangkan. Sifat khawatir terhadap diri sendiri akan hilang seiring dengan bertambahnya keyakinan kita kepada Tuhan, Allah . Oleh karena itu, merubah pola pikir tentang independen bagi saya kini merupakan hal yang sangat esensial.

Semakin cepat bertambahnya usia, semakin cepat juga hidup memaksa saya untuk menjadi dewasa. Namun tidak bisa dipungkiri, hidup juga kadang perlu dinikmati. “Seize the moment” rasanya menjadi frasa yang tepat untuk menikmati hidup dan memaknai setiap perjalanannya. Dan hari ini rasanya saya tak perlu lagi khawatir tentang hidup yang memaksa saya untuk cepat menjadi dewasa. Karena kedewasaan tadi akan tumbuh dengan sendirinya seiring bertambahnya keyakinan saya terhadap ketergantungan kepada Tuhan, Allah .


Comments

  1. Suka dg quotesnya mba...
    YOUR TIME IS LIMITED!! So, dont waste it....

    ReplyDelete
  2. Hanya bergantung kepada Allah adalah pilihan yang sangat tepat, sedangkan bergantung pada diri sendiri adalah sesuatu yang tidak akan mungkin tercapai.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Hidup memang adakalanya harus jeda sejenak untuk bisa merasakan nikmatnya hidup dan memaknai setiap perjalanannya dan total menggantungkan apapun hanya kepada Allah, makasi kak tulisannya ngena sekali

    ReplyDelete
  5. Masyaalloh, bagus.Runut sekali tulisannya

    ReplyDelete
  6. Bahasa dan bahasannya dalem.. 👍👍

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts