Perlunya Pemaknaan
Angin semilir. Tanah-tanah basah. Semalam hujan. Saya mengganti pakaian, kenakan sepatu dan
masker, kemudian berjalan ke luar rumah dengan niat berolahraga. Kebetulan pagi
itu dorongan untuk berolahraga sangat kuat. Saya berjalan satu-dua putaran berkeliling kemudian melanjutkan dengan
berlari-lari kecil. Sebelum itu, dalam otak saya seperti ada kericuhan yang
dihadiri banyak pihak. Mulai dari ide, kekhawatiran, mimpi, dan hal-hal aneh
lainnya.
Otak saya penuh dengan kericuhan. Kericuhan segala macam
yang memenuhi pikiran. Namun setelah saya keluar rumah dan menyaksikan
rindangnya suasana saat itu, saya merasa kembali menjadi diri saya sendiri.
Berdua-duaan dengan diri sendiri. Merasakan kenyamanan dalam kesendirian sambil
menikmati momen. Saya bahkan hampir tidak peduli dengan orang di sekitar. Entah
mereka yang berlari, berkebun depan rumah, atau yang sedang bertengkar dengan
pasangannya. Saya hanya sedang berbincang hangat dengan diri saya sendiri.
Bermacam-macam memang yang otak saya pikirkan. Coba saja kamu bayangkan, buat
juga orang yang sedang berlari memikirkan bagaimana tanaman tetangga tumbuh
subur. Tiba-tiba setelah tiga-empat langkah berlalu, malah selandia baru yang
dipikirkannya. Sangat acak bukan!
Begitulah memang nikmatnya berlari di cuaca yang mendukung.
Hampir tidak pernah kecewa dengan rasa yang diberikannya. Baiklah, saya kira
cukup bernarasi dan meromantisasi segala ini dan itu.
Here’s the thing, gua mau berbagi tentang gua dan lari.
Ohiya sebuah disclaimer, gua bukan atlet, apalagi ahli gizi. Tulisan ini
bukan tentang sains atau langkah-langkah persiapan marathon, ini adalah
sebuah kisah antara gua dan aktivitas lari.
Waktu SMP gua seneng banget sama olahraga, termasuk lari.
Gua bahkan pernah bangun sekitar jam 4 supaya bisa lari sebelum subuh (saat itu
subuh jam setengah 5 lebih). Saking ingin lari sebelum sekolah. Lambat laun SMA
jadi faktor menurunnya intensitas olahraga gua. Sebab tugas, osis, dsb. Singkat
cerita gua yang sekarang udah jarang banget olahraga. Tapi ada hal yang buat
gua trigger dan mau mulai olahraga lagi.
Yap! “What I Talk About When I Talk About Running” karya
Murakami lah yang sontak membuat gua mau lari lagi.
“Lah kok tiba-tiba baca buku begituan?”
Mungkin itu akan jadi pertanyaan gua kalo gua ada di posisi
kalian. Jadi buku ini gua tau dari salah satu podcast favorit gua, yaitu podcast kepo buku . Jadi mereka talk about that
book, yang akhirnya gua makin penasaran dengan bukunya. Saat itu budget gua
kurang, jadi gua memutuskan untuk tidak membeli bukunya, melainkan baca di
goodreads dan ulasan-ulasan lainnya. Kebetulan di google playbook ada
preview-nya jadi bacanya cuma sampe di sekitar halaman 20an aja. Tapi itu udah
cukup membuka mata gua tentang berbincang dengan diri sendiri. Di buku itu
juga, entah murakami intentional atau nggak, gua merasa disuruh untuk
selalu memaknai setiap aktivitas. Karena dari penjelasannya mengenai dia dan
aktivitas lari, itu mendorong gua untuk bisa memiliki hubungan interpersonal
dengan setiap aktivitas yang akan gua jalani. Either itu big event atau
kegiatan rutin sehari-hari.
As I run I tell myself to think of a river. And clouds. But essentially I’m not thinking of a thing. All I do is keep on running in my own cozy, homemade void, my own nostalgic silence. And this is a pretty wonderful thing, No matter what anybody else says.
- Murakami on What I Talk About When I talk About Running
Bagi Murakami, lari merupakan jalan kenyamanannya. Dia dapat
merehatkan diri dari hiruk pikuk dunia melalui berlari. Dengannya, justru
Murakami ingin merasa sepi dan mengosongkan segala pikiran dan rasa yang ada
sambil menikmati apa yang terlihat olehnya. Dan itu bebas. Setiap orang boleh
memaknai kegiatan berlari tergantung dengan keinginannya.
Begitu juga dengan saya, bahkan saya memiliki banyak pemaknaan dalam berlari. Terkadang pemaknaan seperti yang Murakami lakukan berlaku juga bagi saya, kadang juga tidak. Terkadang saya ingin sendiri dengan berlari, terkadang juga saya ingin ramai dalam berlari. Hari ini saya ingin mengosongkan pikiran dengan berlari, esok saya ingin mengumpulkan ide-ide baru melalui berlari. Ini berlaku juga dengan aktivitas-aktivitas lainnya. Jadi pada intinya,
ya tidak ada inti.
Terserah kamu.


Comments
Post a Comment